Ketika ketidaktahuan, pemahaman yang keliru, dan keengganan untuk belajar menjadi persoalan dalam pembinaan kepramukaan.
Dalam Gerakan Pramuka, seorang Pembina memiliki tanggung jawab yang tidak sederhana. Ia bukan sekadar orang dewasa yang hadir dalam latihan, memberikan instruksi, menyampaikan materi, atau mengatur jalannya kegiatan. Pembina adalah pendidik yang ikut membentuk karakter, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian peserta didik.
Namun, ada satu persoalan yang terkadang luput dari perhatian: bagaimana jika seorang Pembina Pramuka melakukan sesuatu yang sebenarnya salah, tetapi tidak menyadarinya? Bagaimana jika ia tidak mengetahui bahwa tindakannya bertentangan dengan ketentuan kepramukaan? Dan bagaimana jika ia sebenarnya sudah mengetahui bahwa itu salah, tetapi tetap melakukannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk direnungkan.
1. Tidak Tahu Bukan Berarti Tidak Bertanggung Jawab
Tidak semua Pembina memiliki kesempatan, pengalaman, dan akses pengetahuan yang sama. Ada Pembina yang baru memulai pengabdian, ada yang sudah bertahun-tahun membina, dan ada pula yang memperoleh pengetahuan secara turun-temurun dari pengalaman sebelumnya.
Ketidaktahuan bisa terjadi. Seseorang mungkin belum memahami aturan, belum mengetahui pedoman terbaru, atau belum pernah mendapatkan penjelasan yang benar mengenai suatu ketentuan.
Namun, ketidaktahuan tidak boleh dijadikan alasan untuk terus melakukan kesalahan.
Seorang Pembina harus memiliki kemauan untuk belajar, membaca, bertanya, berdiskusi, mengikuti peningkatan kompetensi, dan memperbarui pemahamannya.
Sebab, sesuatu yang tidak diketahui hari ini seharusnya menjadi sesuatu yang dipelajari esok hari.
2. Merasa Tahu Belum Tentu Memahami
Persoalan lain justru muncul ketika seseorang merasa sudah mengetahui segalanya.
Pengalaman bertahun-tahun dalam kepramukaan terkadang membuat seseorang merasa paling memahami aturan, tradisi, tata cara, dan metode pembinaan.
Padahal, lama pengalaman tidak selalu menjamin ketepatan pemahaman.
Ada perbedaan antara mengetahui, memahami, dan mampu menerapkan.
- Mengetahui berarti pernah mendengar atau membaca suatu ketentuan.
- Memahami berarti mengerti maksud, tujuan, dan dasar ketentuan tersebut.
- Menerapkan berarti mampu melaksanakan ketentuan itu secara tepat dalam praktik pembinaan.
Seorang Pembina bisa saja mengetahui suatu aturan, tetapi salah memahami maksudnya. Bahkan, ia mungkin menerapkannya berdasarkan kebiasaan lama yang ternyata tidak sesuai dengan pedoman yang berlaku.
Karena itu, pengalaman harus berjalan bersama pengetahuan dan kesediaan untuk mengevaluasi diri.
3. Ketika Kesalahan Dianggap Sebagai Kebiasaan
Salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian adalah ketika kesalahan dilakukan berulang kali hingga dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Kalimat seperti berikut mungkin pernah kita dengar:
- "Dari dulu juga seperti itu."
- "Pembina sebelumnya mengajarkan begitu."
- "Sudah menjadi kebiasaan di sini."
- "Tidak perlu terlalu mengikuti aturan."
- "Yang penting kegiatan berjalan."
Pernyataan tersebut perlu disikapi secara kritis.
Sebuah kebiasaan tidak otomatis menjadi benar hanya karena telah dilakukan bertahun-tahun. Tradisi juga tidak boleh dijadikan pembenaran untuk mengabaikan ketentuan yang seharusnya dipatuhi.
Dalam pendidikan kepramukaan, kebiasaan yang keliru dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya apabila tidak ada yang berani memeriksa dan memperbaikinya.
Jangan sampai sesuatu yang salah terus dipertahankan hanya karena tidak pernah ada yang mempertanyakannya.
4. Lebih Berbahaya Jika Sudah Tahu Bahwa Itu Salah
Ketidaktahuan masih dapat diperbaiki melalui pendidikan dan pembelajaran.
Namun, persoalannya menjadi lebih serius ketika seseorang sudah mengetahui bahwa tindakannya salah, sudah mendapatkan penjelasan, sudah diingatkan, tetapi tetap mempertahankannya.
Dalam kondisi seperti ini, persoalannya bukan lagi sekadar kurangnya pengetahuan, melainkan menyangkut sikap, tanggung jawab, dan kemauan untuk memperbaiki diri.
Seorang Pembina seharusnya tidak menjadikan jabatan, senioritas, pengalaman, atau kedudukan sebagai alasan untuk menolak koreksi.
Justru semakin besar tanggung jawab seseorang dalam pembinaan, semakin besar pula kewajibannya untuk memberikan teladan.
Bagaimana mungkin seorang Pembina mengajarkan kedisiplinan apabila dirinya sendiri tidak bersedia menaati ketentuan?
Bagaimana mungkin seorang Pembina mengajarkan kejujuran apabila dirinya tidak mau mengakui kesalahan?
Dan bagaimana mungkin seorang Pembina mengajarkan tanggung jawab apabila dirinya selalu mencari pembenaran?
5. Dampaknya Bukan Hanya kepada Pembina
Kesalahan seorang Pembina tidak selalu berhenti pada dirinya sendiri.
Dalam pendidikan kepramukaan, peserta didik belajar bukan hanya dari materi yang disampaikan, tetapi juga dari perilaku orang dewasa yang membinanya.
Apa yang dilakukan Pembina dapat menjadi contoh yang ditiru oleh peserta didik.
Jika Pembina memberikan pemahaman yang keliru, peserta didik berpotensi menerima dan meneruskannya sebagai sesuatu yang benar.
Jika Pembina mengabaikan aturan, peserta didik dapat menganggap bahwa aturan tidak perlu dihormati.
Jika Pembina tidak mau menerima kritik, peserta didik dapat kehilangan kesempatan untuk belajar tentang keterbukaan dan tanggung jawab.
Oleh karena itu, kesalahan dalam pembinaan tidak boleh dianggap sebagai persoalan pribadi semata. Ada tanggung jawab pendidikan yang ikut dipertaruhkan.
6. Pembina Harus Berani Mengakui dan Memperbaiki Kesalahan
Menjadi Pembina bukan berarti harus selalu benar.
Tidak ada manusia yang mengetahui segala hal. Setiap orang memiliki keterbatasan pengetahuan dan pengalaman.
Namun, ada sikap yang membedakan Pembina yang terus berkembang dengan Pembina yang berhenti belajar, yaitu kesediaan untuk mengakui kesalahan.
Pembina yang baik bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang bersedia belajar ketika mengetahui dirinya salah.
Ia tidak merasa direndahkan ketika dikoreksi. Ia tidak menganggap masukan sebagai serangan pribadi. Ia juga tidak malu mengatakan bahwa dirinya belum mengetahui sesuatu.
Justru keberanian mengakui kesalahan merupakan bagian dari keteladanan.
Sebab, peserta didik perlu melihat bahwa belajar bukan hanya kewajiban anggota Pramuka, tetapi juga kewajiban seorang Pembina.
7. Mengembalikan Pembinaan kepada Prinsip Kepramukaan
Pembinaan kepramukaan harus berlandaskan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan, serta ketentuan organisasi yang berlaku.
Seorang Pembina perlu memastikan bahwa setiap kegiatan, penyampaian materi, penggunaan atribut, pelaksanaan upacara, sistem pembinaan, dan proses pendidikan memiliki dasar yang jelas.
Jangan hanya bertanya, "Apakah selama ini kita melakukannya?"
Tetapi tanyakan juga:
- Apakah yang kita lakukan sudah sesuai ketentuan?
- Apakah kita memahami dasar dan tujuannya?
- Apakah praktik tersebut mendidik peserta didik?
- Apakah ada aturan yang perlu diperbarui dalam pelaksanaannya?
- Apakah kita bersedia memperbaiki sesuatu yang ternyata keliru?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi awal dari pembinaan yang lebih bertanggung jawab.
PENUTUP: JANGAN SAMPAI MENGAJARKAN SESUATU YANG KITA SENDIRI BELUM PAHAMI
Menjadi Pembina Pramuka bukan sekadar memiliki pengalaman, mengenakan seragam, memegang jabatan, atau dikenal sebagai orang yang sudah lama berkecimpung dalam kepramukaan.
Menjadi Pembina berarti bersedia terus belajar, memahami ketentuan, menjaga sikap, dan memberikan keteladanan.
Jika tidak tahu, belajarlah.
Jika belum memahami, bertanyalah.
Jika keliru, perbaikilah.
Jika sudah mengetahui bahwa itu salah, jangan terus mempertahankannya.
Jangan sampai ketidaktahuan melahirkan kesalahan, kebiasaan menjadikan kesalahan terasa benar, dan kesombongan membuat seseorang menolak kebenaran.
Karena seorang Pembina Pramuka bukan hanya bertugas mengajarkan kebenaran kepada peserta didik, tetapi juga harus bersedia mengoreksi dirinya sendiri ketika ternyata belum berada di jalan yang benar.
Salam Pramuka!
